Budaya Indonesia Dihancurkan Negara Lain. Salah Siapa?

Assalamualaikum. Sobat, seringkali kita mendengar kata-kata 'cintailah budaya Indonesia, biar nggak kalah dari budaya Jepang'. Kata-kata seperti itu mungkin bagi kita sudah seperti 'masuk telinga kanan dan keluar lewat telinga kiri'. Kenapa bisa begitu? Karena kita semua bodoh.

Kita adalah bangsa yang bodoh, hampir semua pemuda di negeri kita ini mahabodoh. Mungkin kalian masih teringat jelas status Facebook orang Jepang yang menampar telak para pemuda-pemuda Indonesia, terutama mereka yang terlanjur menjadi weaboo (sebutan untuk orang yang gila Jepang, sampai lupa tanah airnya sendiri). Inilah screenshot status Facebook-nya..
Sumber foto: keepo.me
Bagi yang tidak memahami artinya, berikut ini terjemahannya..
Mengapa orang indonesia suka budaya Jepang..
Karena orang-orang Indonesia itu bodoh..
Budaya Indonesia lebih kaya dari Jepang, Korea, dan Amerika..
Indonesia harus menjadi contoh bagi negara-negara lain, bukan justru mengekor, meniru dan mengadopsi budaya negara lain..
Indonesia bisa menjadi negara yang sangat kaya jika pemuda dan rakyatnya menghargai negara mereka sendiri..
Indonesia tidak dihancurkan oleh Jepang atau negara lain. Tetapi indonesia hancur oleh rakyatnya sendiri..
Terlepas dari kontroversi apakah ditulis oleh orang Jepang atau bukan, yang penting adalah manfaat pesannya. Bayangkan bila yang menulisnya adalah orang Indonesia, apakah situs berita akan ramai memberitakannya? Apakah kalian akan peduli? Apakah kalian akan memperhatikannya? Tentu saja tidak! Bersyukurlah ada orang Jepang yang berbaik hati mengingatkan kita.

Daripada kita terus-terusan saling menyalahkan, lebih baik kita sama-sama berubah. Bagaimana caranya? Berikut ini adalah cara-caranya, mulai dari yang termudah hingga yang ter-epic yang bisa kita ikuti, terutama bagi teman-teman sesama seniman. Monggo disimak..


Mulailah Mencintai Bahasa Indonesia

Sumber gambar: www.keepcalmstudio.com
Hal pertama dan paling mudah untuk dilakukan adalah dengan mencintai bahasa nasional, bahasa pertama yang kita kenal ketika kita dilahirkan di tanah air tercinta. Sering kali aku melihat di grup menggambar orang cenderung lebih suka menyebut arigato, ohayo, kawaii, dsb ketimbang terimakasih, selamat pagi semua, imutt, dan lain sebagainya. Sesekali sih tidak apa, kalau kebablasan hingga jadi kebiasaan?

Mungkin bagi kamu itu hanya sekedar candaan, tapi bagi orang yang melihat, mereka akan tertanam mindset bahwa Jepang itu menarik. Belum lagi ada oknum yang gemar membully mereka yang tidak mengerti ucapan Jepang dengan "dasar norak". Akhirnya, tertanamlah mindset bahwa "kalau tidak kejepang-jepangan, maka aku norak". Merasa jadi penyebar virus ini nggak? Tentu tidak terasa, tapi itulah yang terjadi.

Selain itu, berhentilah berbahasa alay di era serba canggih ini. Budaya norak itu sudah ketinggalan jaman, dan bila dipertahankan tentu akan memperparah mindset bahwa bahasa kita adalah bahasa norak. Masihkah kita harus diingatkan bahwa menulis awal kalimat, nama, negara, panggilan, harus dengan huruf kapital? Masihkah kita harus diajarkan cara menggunakan tanda baca yang benar layaknya anak SD? Tentu tidak!

Apakah ini salah negara lain? Jelas bukan, penyebabnya adalah kita sendiri. Kita bisa kok, bahkan kita sangat bisa untuk memulai perubahan kecil nan positif ini.

Cintailah Budaya Indonesia, Mulai dari yang Sederhana

Sumber gambar: anneahira.com
Kita tidak perlu memaksakan diri untuk mencintai budaya Indonesia apa yang tidak kita suka, dan kita bisa memilih satu dari berbagai budaya Indonesia yang begitu kaya untuk dicintai. Bagaimana kalau tidak ada yang disuka? Pasti ada! Jangan biarkan gengsi menutupi rasa suka dihatimu! Misalnya, kamu tertarik dengan alat musik Sasando, tapi kamu terhalang oleh gengsi bahwa Harpa lebih menarik, jangan biarkan gengsimu. Ikuti saja budaya Indonesia mana yang hatimu inginkan.

Kita juga tidak perlu memaksakan diri untuk mencintai budaya Indonesia yang menarik tapi sulit untuk dikuasai, mulailah dari hal kecil atau sederhana. Berawal dari hal mudah, nantinya lama-kelamaan akan bertumbuh minat untuk menguasai yang sulit.

Kenapa mencintai budaya penting? Karena bila tidak cinta budaya sendiri, pernyataan kamu "aku mau mengangkat budaya Indonesia dengan karya" itu akan jadi omong kosong. Bayangkan bila kita ingin mengangkat budaya daerah asal kita menjadi komik tapi kita sama sekali buta dengan budayanya. Apa yang bakal kamu buat coba?

Kamu tidak akan berhasil mengangkat budaya daerahmu sendiri kalau kamu belum mengenal atau bahkan belum mencintainya. Titik!

Dukung Produk Asli Indonesia

Sumber foto: kulitpari.com
Masih soal gengsi. Kenapa produk Indonesia sulit bersaing dengan terjangan produk luar negeri? Karena kita bodoh, mahabodoh, dan belagu. Kita rela membayar mahal untuk produk luar tapi enggan mengeluarkan sepeser pun untuk produk Indonesia, padahal sebenarnya kita suka dengan produk itu. Miris kan? (atau lebih tepatnya mahabuoduoh kan?)

Contoh sederhananya begini. Ada seseorang yang mengaku penggemar berat Raisa dan Big Bang. Begitu Big Bang rilis album, dia beli walaupun mahal atau harus impor. Begitu Big Bang konser di negeri sebelah, yaitu Singapura, dia merelakan gajinya demi nonton Big Bang disana. Pulang nonton konser langsung demo menuntut kenaikan upah.. Ups!
Sedangkan ketika Raisa rilis lagu baru, dia mendingan Googling mp3-nya. Begitu Raisa rilis album, dia lebih suka menunggu gratisan album dari restoran ayam goreng atau menunggu teman sesama penggemar meminjamkannya. Bahkan, begitu Raisa menggelar konser yang tinggal naik angkot sekali dari rumahnya, dia enggan beli tiketnya yang murah dan memilih menontonnya di TV.

Jadi kalau produk kita turun kualitasnya salah siapa?

Contoh itu juga terjadi dalam hal lainnya, mulai dari gadget, drama lokal yang berkualitas, komik lokal, buku, karya sastra. Negeri ini dipenuhi dengan orang belagu yang menyukai produk impor, padahal produk kita juga berkualitas. Produk Indonesia tak butuh hanya sekedar dukungan, tapi juga kepercayaan. Kalau bukan Indonesia sendiri yang percaya produk negerinya, terus siapa yang akan percaya?

Do it Yourself!

Sering kali kita mendengar dalih mereka-mereka yang tidak mau mencintai Indonesia seperti "ngapain nonton tivi nggak mutu, mendingan nonton anime lebih berbobot" atau "musik indo nggak mutu, mendingan dengerin musik luar". Benar kan? Lagi-lagi maaf karena aku harus mengatakan bahwa omongan mereka itu mahabodoh!

Seseorang: Resiko dong, kan kritik juga perlu keleus!

Kritik itu perlu, tapi tentu saja mereka tidak perlu kritik tanpa solusi. Jangan hanya jadi orang yang NATO alias no action talk only. Kalau kamu merasa segala sesuatunya tentang Indonesia itu norak, ketinggalan jaman, sudah sekarat, dan harus segera diselamatkan, kenapa kamu masih bersantai? Kenapa kamu masih bermalas-malasan tiduran sambil utak-atik ponsel yang tak ada ujungnya? Sudah saatnya kita DIY! 
Sumber foto: rmsbunker.wordpress.com
Berhentilah bermimpi kosong bahwa omongan kita ditanggapi dan semua akan berubah dalam sekejap bak sihir ajaib! Lantangkanlah keinginanmu dengan berbuat sesuatu untuk sesuatu yang kamu anggap tidak sejalan dengan keinginanmu. Bukan dengan berdemo, tapi dengan berkarya, dengan DO IT YOURSELF tanpa harus mengharapkan keajaiban.

Kalau kamu mau berusaha, pasti ada jalan kok..
  • Kalau kamu mau menjadi komikus, penerbit semacam re:ON Comics itu banyak kok di Indonesia. Bahkan tak sedikit loh komikus Indonesia yang karyanya dilirik oleh penerbit di luar negeri.
  • Kalau mau jadi musisi, ya belajar musik yang benar dulu. Nantinya, ketika kita sudah bisa membuat karya yang berkualitas dan nggak menye-menye, kita bisa datangi label terdekat di kotamu.
  • Kalau mau jadi sineas yang menghentikan sinetron tidak bermutu, ya kuliah dulu yang serius, jangan main game online terus. Nanti kalau kita sudah bisa buat karya berkualitas, tendang saja sineas yang merusak moral anak bangsa dengan prestasimu.
  • Kalau kamu mau menjadi penulis, novelis dan lain sebagainya. Penerbit buku di Indonesia ini membludak, kamu tinggal pilih yang kamu mau. Kalau gagal? Ya coba lagi di penerbit lainnya.
  • Kalau kamu anak orang kaya, manfaatkan uang bapakmu untuk membangun tanah air. Mulai saja dari hal kecil, misalnya dengan mendukung usaha rumahan snack asli Indonesia yang enak abis tapi kurang dikenal. Bisa juga dengan merencanakan proyek-proyek gila yang dapat membangun Indonesia. Itu lebih baik daripada uangnya dihamburkan tidak karuan.
  • Kalau kamu ingin memberantas korupsi, mulailah dari diri sendiri. Main game online saja cheating, apa lagi di dunia nyata? Disuruh belanja warung saja masih suka menilep uang kembalian, apalagi kalau belanja negara? Ubahlah dari diri kita sendiri.
Dengan begitu, kita pasti suatu saat nanti mengubah yang kita benci dari oknum Indonesia dengan kedua tangan kita sendiri. 


Jadi, apakah kamu masih mau menjadikan budaya luar negeri sebagai pelarian dari budaya kita yang sudah sekarat? Apakah kamu masih mau berteriak-teriak bahwa negara kita sedang dihancurkan oleh budaya Jepang, Korea dan lain-lain? Hahaha, tentu tidak lagi karena kita akhirnya tahu bahwa kita sendiri adalah oknum yang telah menghancurkan budaya Indonesia, bukan mereka.

Terimakasih sudah membaca. Semoga artikel ini membuka mata dan menginsprasi pembaca sekalian.

Wassalamualaikum..

Bantu share ya:

Bryan Suryanto lahir di Tulungagung, Jawa Timur, pada tanggal 27 Februari 1995 silam. Ia mengaku sebagai introvert berkepribadian INFP yang suka menggambar dan bercita-cita menjadi komikus tapi selalu gagal. Namun, dari naskah komik yang gagal itulah akhirnya ia menyadari bahwa menulis adalah passion terbesarnya..

    Previous
    Next Post »

    Jangan lupa berkomentar ya?